Cerpen fiksi
Yerusalem, 25 desember 2017 pukul 18.00
Duduk diantara lebatnya bunga di temani suara burung gereja yang menghiasi sebuah biara tua dijantung dunia yang penuh dengan gejolak menpertahankan emas dan sumber daya kehidupan. Seorang anak berumur 17 tahun bernama Ahmed, seorang kurdi berkulit eksotik berdarah afrika mencoba menikmati senja diatas negeri seribu nabi. Seorang kurdi yatim yang dibesarkan di area religi yang erat kaitanya dengan seorang tokoh sentral dari negeri kan’an yang dianggap bapaknya kaum monoteis di dunia yaitu Ibrahim atau Abraham dalam kitab umat nasrani. Ahmed ,merupakan sedikit orang yang beruntung bisa hidup setelah perang yang melanda Gazza.
Akhir-akhir ini tempat dimana dia tinggal sering bergejolak seperti layaknya ledakan rantai senjata perang dunia kedua. “Apakah ini awal perang dunia selanjutnaya ?” Ahmed sejenak berfikir dan terdiam diantara banyaknya turis yang mengunjungi komplek sakral yang ramai. Sebagai salah satu dari orang yang pernah menjadi korban perang, Ahmed tentu saja sudah tidak asing dengan perang beserta dampak buruk yang ada didalamnya.
Sekejap membisu, Ahmed larut dalam gejolak batin tentang perang. Tergambar dalam pikirannya sebuah invasi besar-besaran ,ribuan tentara dan ratusan rudal meghiasi alun-alun kota yang dulunya damai, detupan peluru di langit yang menggelegar layaknya petir ditengah badai.gemerlap langit yang gelap tiba-tiba menjadi penuh cahaya, seperti pesta kembang api dilangit, kilapan ledakan rudal diangkasa akan menghiasi malam para penduduk yang tak berdaya.
Bersambung......
Yerusalem, 25 desember 2017 pukul 18.00
Duduk diantara lebatnya bunga di temani suara burung gereja yang menghiasi sebuah biara tua dijantung dunia yang penuh dengan gejolak menpertahankan emas dan sumber daya kehidupan. Seorang anak berumur 17 tahun bernama Ahmed, seorang kurdi berkulit eksotik berdarah afrika mencoba menikmati senja diatas negeri seribu nabi. Seorang kurdi yatim yang dibesarkan di area religi yang erat kaitanya dengan seorang tokoh sentral dari negeri kan’an yang dianggap bapaknya kaum monoteis di dunia yaitu Ibrahim atau Abraham dalam kitab umat nasrani. Ahmed ,merupakan sedikit orang yang beruntung bisa hidup setelah perang yang melanda Gazza.
Akhir-akhir ini tempat dimana dia tinggal sering bergejolak seperti layaknya ledakan rantai senjata perang dunia kedua. “Apakah ini awal perang dunia selanjutnaya ?” Ahmed sejenak berfikir dan terdiam diantara banyaknya turis yang mengunjungi komplek sakral yang ramai. Sebagai salah satu dari orang yang pernah menjadi korban perang, Ahmed tentu saja sudah tidak asing dengan perang beserta dampak buruk yang ada didalamnya.
Sekejap membisu, Ahmed larut dalam gejolak batin tentang perang. Tergambar dalam pikirannya sebuah invasi besar-besaran ,ribuan tentara dan ratusan rudal meghiasi alun-alun kota yang dulunya damai, detupan peluru di langit yang menggelegar layaknya petir ditengah badai.gemerlap langit yang gelap tiba-tiba menjadi penuh cahaya, seperti pesta kembang api dilangit, kilapan ledakan rudal diangkasa akan menghiasi malam para penduduk yang tak berdaya.
Bersambung......